Pada tanggal 23 – 30 Juni 2008 telah diadakan pertemuan antara 150 pemuda dari 38 negara di Bandung dan Garut. Dalam pertemuan yang bertema “The role of youth: action on Millenium Development Goals toward a peaceful world”, para pemuda tersebut berdiskusi, berbagi dan melakukan beberapa tindakan nyata seperti kerja bakti dan gotong royong dengan penduduk setempat. Semangat yang melatari pertemuan ini adalah pertukaran budaya yang tulus, keinginan untuk bersahabat terlepas dari latar belakang budaya, agama dan ras serta pengabdian kepada kemanusiaan.
Hal-hal universal ini masih mampu menyatukan manusia dari berbagai belahan dunia, seperti dibuktikan pada pertemuan tersebut. Dengan 3 hari sesi workshop dan diskusi yang dilakukan di Gedung Konperensi Asia Afrika, seakan semangat para founding fathers perumus Dasa Sila Bandung turut dirasakan selama kegiatan berlangsung. Sebagian besar pemuda yang hadir membawa kisah akan kegiatan kerelawanan mereka di negaranya masing-masing. Banyak cerita yang inspiratif dan menggugah, banyak peserta mengakui mengalami perubahan pola pikir, terbuka wawasannya dan terkikis prejudice-nya yang terbentuk selama ini karena kurangnya interaksi dan informasi.
Terdapat statistik yang menggembirakan khususnya untuk Indonesia, yaitu kegiatan ini diprakarsai dan diselenggarakan oleh pemuda-pemudi Indonesia serta menghadirkan 30an peserta yang berasal dari berbagai propinsi di Indonesia. Ini menandai adanya semangat kemandirian, kepedulian serta keinginan untuk secara tulus menyebarkan semangat kerelawanan kepada pemuda-pemuda lainnya terutama di Indonesia. Namun pemuda-pemuda ini menemukan semangat tersebut melalui cara yang berbeda-beda. Mereka mengakui keinginan menjadi relawan bukan terjadi karena interaksi formal di sekolah,yaitu melalui proses pendidikan yang mereka lalui disana.
Pendidikan kerelawanan adalah salah satu elemen penting dari pembentukan karakter yang hilang dari pendidikan formal kita selama ini. Pergeseran fungsi sekolah telah terjadi tanpa kita melakukan sesuatu untuk menghindarinya. Sekolah seyogyanya didirikan untuk membantu masyarakat melalui pemerintah menanamkan nilai-nilai moral serta karakter yang baik sehingga pada akhirnya siswa yang dididik dapat menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan berguna. Namun fungsi ini direduksi sedemikian rupa sehingga sekolah seolah-olah telah menjadi lembaga bimbingan ujian. Bahkan tanpa malu-malu telah banyak sekolah yang menggandeng lembaga bimbingan untuk melakukan hal tersebut didalam sekolah mereka. Siswa dipacu untuk menjadi yang terbaik, dengan menggunakan jalan singkat, rumus cepat dan pengenalan pola soal bahkan sering kita dengar kecurangan berjamaah yang dilakukan pihak sekolah sendiri saat UAN berlangsung. Mereka dididik untuk jadi pemenang karena peluang untuk itu sangat sedikit dan kompetisi sangat ketat. Sehingga siswa terbiasa berpikir dalam kerangka win-lose.
Didalam kelas, banyak pelajaran yang dilakukan lepas dari realitas sosial yang ada dan seolah-olah terjadi di ruang vakum. Siswa tidak dibiasakan untuk berefleksi, menganalisa sebab dan akibat dari suatu perbuatan, serta berempati akan penderitaan orang lain. Kepedulian akan kemanusiaan serta keinginan untuk melakukan sesuatu untuk sesama hanya menjadi butir-butir hapalan tanpa melalui proses merasa dan mengalami. Metode “menyuap informasi” yang biasa dilakukan didalam kelas, menyebabkan benih-benih kemandirian dan berinisiatif sulit untuk tumbuh dengan subur.
Banyak yang dapat dilakukan untuk mengubah hal ini. Kegiatan kelas yang berinteraksi langsung dengan kejadian sehari-hari untuk menggugah empati siswa dan menumbuhkan keinginan mereka untuk melakukan sesuatu dapat dilakukan hampir di seluruh mata pelajaran. Contoh yang sederhana adalah dengan menggunakan bencana seperti banjir sebagai topik untuk dibedah di dalam dan diluar kelas. Bencana tersebut tidak hanya dianalisa sebab dan akibat melalui ilmu sains alam tetapi juga secara ilmu sosial. Siswa dapat meneliti sistem pembuangan limbah yang ada, membuat angket untuk penduduk setempat mengenai dampak banjir serta mewawancara pejabat instansi terkait. Pendekatan multi-disiplin membiasakan siswa untuk melihat masalah dari berbagai perspektif serta terbiasa dengan kerangka berpikir win-win. Pada akhirnya siswa dapat dibimbing untuk merumuskan tindakan-tindakan sederhana yang dapat mereka lakukan untuk mencegah bencana tersebut dan membuat kampanye kecil-kecilan untuk menyebarkan hasil penelitian di lingkungan mereka.
Sekolah juga dapat mengorganisasi kegiatan-kegiatan berorientasi kepada pemecahan masalah di lingkungan mereka sendiri. Melalui ekstra kurikuler seperti Palang Merah Remaja, Klub Pencinta Alam, Kelompok Ilmiah Remaja, relevansi ilmu yang didapat akan menjadi lebih riil sekiranya siswa diajak juga mengaplikasikan ilmu mereka secara langsung ke masyarakat dalam kegiatan ekstrakurikuler tersebut. Yang kerap terjadi adalah kegiatan ekstra kurikuler seolah berdiri sendiri diluar kegiatan kurikuler, dan merupakan ajang siswa untuk bebas lepas dari guru dan sekolah serta ajang siswa untuk unjuk gengsi dengan mengadakan pesta sekolah.
Di luar sekolah, even seperti Youth Forum diatas, dapat dilakukan dengan lebih kerap dalam skala nasional maupun lokal. Hal ini dapat dilakukan untuk menggugah semangat kerelawanan dan bertukar ide mengenai kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan. Dengan adanya teknologi tidak akan sukar menyebarkan informasi mengenai kegiatan-kegiatan kerelawanan untuk kaum muda. Terlebih lagi pemuda adalah pengguna teknologi yang paling banyak saat ini. Jika kita membuka internet, sudah sangat mudah ditemui website kerelawanan yang mengabdi di berbagai bidang yang dilakukan oleh pemuda.
Pencapaian MDG’s sendiri merupakan hal yang akan mustahil dicapai pada tahun 2015 jika masyarakat (baca pemuda) tidak dilibatkan secara aktif. Pemuda dalam banyak kampanye MDG’s seperti HIV& AIDS, pendidikan dasar untuk semua serta kesehatan ibu dan anak sering hanya menjadi target semata. Karena mayoritas dari targeted subject dalam pencapaian indikator tersebut memang pemuda. Namun untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi kampanye, ada baiknya pemuda juga dilibatkan aktif dalam melakukan sendiri kampanye tersebut pada peer group mereka. Hal inilah yang telah mulai dilaksanakan oleh beberapa peserta IYF dari negara-negara lain. Peserta dari Myanmar menceritakan kampanye HIV/AIDS gelap yang mereka lakukan dibawah tekanan junta militer, hal yang memerlukan tidak hanya kepedulian dan empati tetapi juga keberanian ekstra.
Masih ada harapan bahwa generasi si muda Indonesia sekarang tidak akan tumbuh menjadi generasi yang mementingkan diri mereka sendiri. Buktinya terlihat pada saat terjadi bencana silih berganti di negeri ini. Relawan pemuda adalah salah satu rombongan relawan pertama yang tiba di lokasi dan bergotong-royong dengan masyarakat mengatasi bencana tanpa embel-embel organisasi, afiliasi politik apalagi mencari ketenaran. Hanya rasa kemanusiaan yang mendorong mereka dan untunglah hal ini tak terkikis oleh proses pendidikan formal mereka. Kegiatan kerelawanan tidak harus berupa bantuan saat bencana, telah banyak kegiatan-kegiatan sederhana lain yang dilakukan oleh pemuda seperti membuat Taman Bacaan, Kampanye mencuci tangan sebelum makan, serta Kampanye menggosok gigi yang meskipun terlihat remeh namun sebenarnya berdampak sangat besar dan dapat dimulai dari lingkungan sendiri. Namun keberadaan pemuda relawan diatas jumlahnya masih sangat sedikit berbanding jumlah penduduk usia muda pada umumnya and luasnya wilayah yang harus dijangkau.
Institusi pendidikan memang mempunyai posisi strategis dalam melakukan pendidikan kerelawanan. Membentuk inisiatif, kepedulian dan kemandirian dalam diri pemuda kita harus dimulai dari perubahan cara belajar mereka sekarang serta mengembalikan fungsi sekolah itu sendiri . Dengan mendidik siswa untuk mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi dan inisiatif untuk melakukan perubahan dalam lingkungan; niscaya akan terbentuk lapisan masyarakat yang berpendidikan, mandiri serta bertanggung jawab dalam menanggulangi permasalahan mereka sendiri. Hal ini akan mengurangi mentalitas ketergantungan yang sangat banyak kita temui dalam masyarakat kita saat ini.
Revised edition published in Media Indonesia, August 18, 2008.
4 Comments
August 20, 2008 at 2:49 am
wOw,,
mBak Satia,,
Lama juga yh ternyata kita telah tidak bertukar kabar,,
apa kabar Mbak??
kabar Aceh gimana??
salam buat bu Tuti, Kak Raisa yh,,
keren niyh artikelnya,,
sayangnya mbak, diluar dunia yang kita mengerti ini, masih banyak para pemuda yang tidak mengerti bahkan tidak mau tahu tentang kerelawanan ini,,
tapi tetap aj, yang sudah kita komitmenkan insya ALLAH jadi satu langkah baik untuk menuju dunia yang kita inginkan,,
warm regards from Yogya,,
Tata
pssst.. jangan lupa sering-sering main ke tempat ta yak,,

August 20, 2008 at 4:08 am
[...] kemaren dimana ia juga membahas mengenai pendidikan kerelawanan (yang mau baca artikelnya klik disini) membuat ta mengingat kembali kejadian demi kejadian di Bandung itu, bagaimana terjalinnya hubungan [...]
August 20, 2008 at 12:30 pm
mbak satia
masih inget gak sama saya?
amel yg kmaren iyf juga…ternyata bikin blog di wordpress juga ya ^^
sukses terus ya buat tulisannya, kalo smpet silakan berkunjung ke halaman saya juga…hehehe
cheers,
amel
August 25, 2008 at 5:05 am
Tata,
Apa kabar? thanks ya udah mampir…..Gimana Yogya? masih suka ketemu dgn IYF-er dari Yogya gak?
Satia