<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>satiazen</title>
	<atom:link href="http://satiazen.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://satiazen.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Apr 2009 04:00:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='satiazen.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>satiazen</title>
		<link>http://satiazen.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://satiazen.wordpress.com/osd.xml" title="satiazen" />
	<atom:link rel='hub' href='http://satiazen.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>our school go green</title>
		<link>http://satiazen.wordpress.com/2009/04/01/our-school-go-green/</link>
		<comments>http://satiazen.wordpress.com/2009/04/01/our-school-go-green/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 04:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>satiazen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://satiazen.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu lalu sekolah kami juga ikutan earth hour lho, meskipun hanya di living area, tadinya pak Bayu (manager complex) menawarkan listrik dipadamkan langsung dari genset, kalo itu mah gak ada effort dari anak2 meskipun cuma mematikan saklar, kurang afdol.  Setelah &#8230; <a href="http://satiazen.wordpress.com/2009/04/01/our-school-go-green/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=satiazen.wordpress.com&amp;blog=4522694&amp;post=32&amp;subd=satiazen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu lalu sekolah kami juga ikutan earth hour lho, meskipun hanya di living area, tadinya pak Bayu (manager complex) menawarkan listrik dipadamkan langsung dari genset, kalo itu mah gak ada effort dari anak2 meskipun cuma mematikan saklar, kurang afdol.  Setelah koordinasi dengan kepala asrama putra-putri dan anak-anak diberitahu, akhirnya lampu diasrama dimatikan.   Asrama putra dan putri gelap gulita, rumah kepala asrama dan kepala sekolah termasuk rumah saya juga gelap, dan kita duduk-duduk di teras sambil ditemani sinar lilin, sambil ngobrol dan mendengarkan suara anak-anak yang sedang mengobrol ataupun bermain.  Seru juga lho.</p>
<p>Pagi ini, saya lihat selebaran dengan title &#8220;CUBITOS&#8221;, ternyata singkatan dari Comunity Bike to School, ide dari siswa kelas 2 IPS yang naik sepeda kesekolah 3 hari dan naik motor 3 hari sisanya dalam satu minggu.  Duh senangnya, Sukma go green&#8230;&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/satiazen.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/satiazen.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/satiazen.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/satiazen.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/satiazen.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/satiazen.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/satiazen.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/satiazen.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/satiazen.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/satiazen.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/satiazen.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/satiazen.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/satiazen.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/satiazen.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=satiazen.wordpress.com&amp;blog=4522694&amp;post=32&amp;subd=satiazen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://satiazen.wordpress.com/2009/04/01/our-school-go-green/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/222fc3e8701e8426469b93fc40808bd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">satiazen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dinding sekolahnya bersih ya….</title>
		<link>http://satiazen.wordpress.com/2008/08/26/dinding-sekolahnya-bersih-ya%e2%80%a6pentingnya-pendidikan-karakter-di-sekolah/</link>
		<comments>http://satiazen.wordpress.com/2008/08/26/dinding-sekolahnya-bersih-ya%e2%80%a6pentingnya-pendidikan-karakter-di-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 01:22:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>satiazen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://satiazen.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Komentar diatas diberikan oleh salah seorang pengunjung sekolah kami dari Hiroshima University. Dua tahun yang lalu, beliau telah mengunjungi sekolah-sekolah bantuan Jepang di berbagai daerah saat bekerja pada lembaga bantuan Jepang di Aceh. Beliau mengaku cukup kecewa dengan ‘pengabaian’ terhadap &#8230; <a href="http://satiazen.wordpress.com/2008/08/26/dinding-sekolahnya-bersih-ya%e2%80%a6pentingnya-pendidikan-karakter-di-sekolah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=satiazen.wordpress.com&amp;blog=4522694&amp;post=24&amp;subd=satiazen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="EN">Komentar diatas diberikan oleh salah seorang pengunjung sekolah kami dari Hiroshima University.  Dua tahun yang lalu, beliau telah mengunjungi sekolah-sekolah bantuan Jepang di berbagai daerah saat bekerja pada lembaga bantuan Jepang di Aceh.  Beliau mengaku cukup kecewa dengan ‘pengabaian’ terhadap bantuan fisik yang telah diberikan.<span> </span>Lanjutan dari komentar itu adalah: “Saya pikir jika dinding sekolah bisa dijaga untuk tidak dicoret dan dikotori maka disiplin di sekolah ini mestilah cukup baik.”</span></p>
<p><span lang="EN">Komentar tersebut membuat penulis termenung.  Karena sebagai salah satu pihak pengelola sekolah, penulis tidak pernah memperhatikan hal-hal “kecil” seperti dinding bersih.  Kami lebih fokus kepada keluhan yang sering terdengar dari para guru seperti pencapaian siswa kami yang seolah-olah jalan di tempat.   Ditambah lagi tahun ini adalah tahun pertama sekolah kami mengeluarkan lulusan dan mengikuti ujian nasional.<span> </span>Jadilah persiapan menghadapi UN menjadi pekerjaan rumah ekstra serta menghantui seluruh proses belajar.</span></p>
<p><span lang="IT">Sikap ini umum dijumpai pada sebagian besar pengelola institusi pendidikan.<span> </span>Karena mereka memang tidak pernah dimintai pertanggungjawaban mengenai penyelenggaraan pendidikan secara menyeluruh. <span> </span>Hasil UN menjadi satu-satunya indikator penilaian efektifitas sekolah. Akibatnya penyelenggaraan pendidikan banyak terfokus kepada kegiatan kognitif dan mengesampingkan banyak fungsi sekolah lainnya. Padahal menurut Roberta M. Berns (2003) fungsi sekolah adalah sebagai agen sosialisasi dan setting bagi anak untuk melakukan eksperimen intelektual dan sosial, sehingga anak mampu mengembangkan ketrampilan, pengetahuan, rasa ingin tahu dan sikap yang akan membentuk karakter mereka sebagai individu serta membentuk kemampuan mereka untuk berfungsi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab.<span> </span></span></p>
<p><span lang="IT">Sebenarnya masih banyak pencapaian ‘kecil’ lainnya seperti sampah yang dibuang pada tempatnya, tumbuhan dan bunga yang tidak dipetik atau dirusak, baju seragam yang rapih, datang ke kelas tepat waktu, sapaan ceria siswa kepada guru dan sesama mereka, senyum lebar maupun malu-malu yang ditebar di lorong sekolah serta antrian panjang dan tertib pada saat makan siang.<span> </span>Hal-hal diatas menjadi indikator bahwa sekolah kami telah berhasil menjadi komunitas belajar yang aman dan mendorong siswa untuk berkembang sebagai individu mandiri.<span> </span>Melihat latar belajar sekolah kami, sesungguhnya pencapaian ini lebih nyata berbanding dengan UN yang masih jauh dimata, namun menakutkan dihati.<span> </span>Sebab bagi sebuah institusi yang dibangun dalam masyarakat pasca konflik, pencapaian-pencapaian diatas jauh lebih bermanfaat dan nyata sumbangsihnya untuk membentuk warga negara yang akan mampu menjaga perdamaian di Aceh.</span></p>
<p><span lang="IT">Pendidikan karakter</span></p>
<p>Sekolah menyediakan ruang yang sangat luas untuk pendidikan karakter. Namun sekolah harus menyadari perannya dalam hal ini, sebab disadari atau tidak sekolah memang menanamkan karakter dasar untuk siswa-siswinya. Pertanyaannya adalah karakter seperti apa yang ditanamkan. Jika sekolah menyadari fungsinya, maka akan ada usaha nyata dalam bentuk pembentukan budaya sekolah, program, kegiatan kelas untuk menunjang aplikasi dan refleksi dari nilai-nilai tersebut oleh siswa dan kesadaran warga sekolah untuk menjadi model bagi karakter yang ingin ditanamkan. Jika tidak ada kesadaran, maka siswa akan mengandalkan kebiasaan yang diserap dari rumah dan masyarakat, logika dan penalarannya sendiri untuk menyaring apa yang baik bagi dia dan orang lain. Tidak ada intervensi nyata dari sekolah, tidak akan bimbingan dari orang dewasa seperti guru dan tidak ada penghargaan jika siswa tersebut melakukan hal yang secara moral diterima dalam budaya sekolah.<span> </span>Tetapi bisa dipastikan siswa akan menerima hukuman jika terjadi pelanggaran.<span> </span>Hal ini akan membentuk manusia yang tidak takut melakukan kesalahan asalkan tidak ketahuan.</p>
<p>Karakter dasar manusia memang terbentuk pada masa kecilnya dan akan tinggal sepanjang hayat. Disinilah letak pentingnya pendidikan karakter sebagai komponen utama dalam pendidikan dasar kita. Menurut Dr. Thomas Lickona dalam bukunya <em>Educating for Character (Bantham, 1991), </em>pendidikan karakter adalah usaha sungguh-sungguh dan sengaja untuk membuat siswa memahami, peduli dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika dasar. Jadi sangat penting, bagi pengelola sekolah dan guru untuk menanamkan nilai-nilai dasar tersebut, tidak hanya sebagai butir hapalan tetapi juga menantang siswa untuk menguji nilai-nilai mereka dalam kehidupan sehari-hari dan berefleksi mengenai hal itu baik dalam lingkungan sekolah maupun diluar. Siswa dapat diminta menceritakan peristiwa ketika nilai kejujuran mereka harus diuji. Jika siswa telah terbiasa dan menjadi mahir dalam menilai serta merespon situasi dengan mengacu pada nilai-nilai dasar yang telah ditanamkan maka nilai-nilai ini akan menjadi bagian dari karakter mereka.</p>
<p class="MsoNormal">Bagaimana caranya?</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Berita terbaru dari asrama putra,di sekolah kami dapat menjadi contoh.<span> </span>Minggu lalu telah terjadi pencurian makanan pribadi di asrama. Sang korban menangis, sang pelaku berkilah. Para guru asuh dan kepala asrama mengadakan sidang, masing-masing pihak mengajukan keluhan dan alasannya. Korban mengeluhkan diambilnya makanan yang dikirim dari rumah dan disimpan untuk pengobat rindu. Pelaku mengatakan belum pernah melihat makanan seperti itu, hanya dalam iklan dan ingin mencicipi. Karena meminta baik-baik tidak mempan, maka makanan tersebut dicuri. Singkat cerita, pada akhir masa sidang, masing-masing pihak telah memahami peran mereka serta akibat dari perbuatan mereka.<span> </span>Hukuman ditetapkan dan disepakati, hasilnya hukuman ini memang dijalankan dengan lebih khidmat dan peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua warga asrama.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kasus diatas adalah salah satu contoh bagaimana nilai kejujuran dan berbagi dapat ditanamkan dalam diri anak.<span> </span>Melalui kejadian sederhana dan pendekatan pengelola asrama yang bijak dan cepat tanggap, pencurian tidak meluas dan dapat dicegah dengan segera.<span> </span>Disini hubungan siswa dan guru yang harmonis, hangat dan akrab juga menjadi kunci penting.<span> </span>Siswa yang merasa aman dengan gurunya akan dapat bercerita jika ada kesulitan dan menerima jika guru tersebut memberikan penghargaan, masukan atau hukuman.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Selain itu model dari karakter tersebut juga harus mudah dilihat dan diikuti oleh siswa.<span> </span>Model disini tentu saja merujuk kepada orang dewasa yang menjadi panutan di sekolah seperti guru, staf dan para pengelola sekolah.<span> </span>Ini juga dinilai lebih efektif sebab contoh nyata akan berkesan berbanding ceramah dan pemberitahuan tanpa diikuti oleh tindakan nyata.<span> </span>Kita semua ingat dengan pepatah: guru kencing berdiri, murid kencing berlari.<span> </span>Perilaku guru dan orang dewasa lain di sekolah akan dengan mudah diikuti oleh siswa.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Sepakati budaya sekolah yang akan mendukung pendidikan karakter.<span> </span>Jika sekolah menginginkan kejujuran, jangan beri celah untuk siswa berlaku tidak jujur serta berikan penghargaan atas tindakan jujur yang dilakukan seperti memberikan kalimat pujian singkat.<span> </span>Jika sekolah ingin menanamkan nilai keramahan dan sopan santun maka tegur sapa dan salam harus menjadi kebiasaan diantara warga sekolah.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Beri penghargaan, sehingga siswa akan terbiasa dihargai.<span> </span>Hukuman hanya akan membuat siswa berusaha melakukan pelanggaran dengan lebih baik atau berusaha tidak ketahuan.<span> </span>Meskipun hukuman tetap perlu untuk kasus-kasus tertentu, fokus kepada perubahan kearah positif dan berikan pengakuan atas usaha yang dilakukan oleh siswa secara proporsional.<span> </span>Bila perlu rayakanlah pencapaian siswa, dengan memberi penghargaan bulanan untuk siswa yang memang menjadi model dari karakter yang diinginkan, atau menunjukkan perubahan positif kearah tersebut.  Dengan demikian siswa terbiasa berpikir untuk menjadi lebih baik. Stephen Covey, seorang motivator terkenal mengatakan pikiran akan berkembang menjadi tindakan, tindakan akan menjadi kebiasaan, kebiasaan lama kelamaan akan menjadi karakter.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Masih banyak cara-cara lain yang dapat ditempuh sekolah.<span> </span>Namun pihak pengelola juga harus berani menetapkan penanaman nilai-nilai dan pendidikan karakter sebagai agenda penting sekolah selain pencapaian akademis.<span> </span>Cara sederhana sederhana yang ditempuh untuk menanamkan nilai tidak mengurangi urgensi pendidikan karakter itu sendiri.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p><span lang="IT"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/satiazen.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/satiazen.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/satiazen.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/satiazen.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/satiazen.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/satiazen.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/satiazen.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/satiazen.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/satiazen.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/satiazen.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/satiazen.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/satiazen.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/satiazen.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/satiazen.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/satiazen.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/satiazen.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=satiazen.wordpress.com&amp;blog=4522694&amp;post=24&amp;subd=satiazen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://satiazen.wordpress.com/2008/08/26/dinding-sekolahnya-bersih-ya%e2%80%a6pentingnya-pendidikan-karakter-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/222fc3e8701e8426469b93fc40808bd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">satiazen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENDIDIKAN KERELAWANAN</title>
		<link>http://satiazen.wordpress.com/2008/08/16/pendidikan-kerelawanan/</link>
		<comments>http://satiazen.wordpress.com/2008/08/16/pendidikan-kerelawanan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 05:09:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>satiazen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://satiazen.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 23 – 30 Juni 2008 telah diadakan pertemuan antara 150 pemuda dari 38 negara di Bandung dan Garut. Dalam pertemuan yang bertema “The role of youth: action on Millenium Development Goals toward a peaceful world”, para pemuda tersebut &#8230; <a href="http://satiazen.wordpress.com/2008/08/16/pendidikan-kerelawanan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=satiazen.wordpress.com&amp;blog=4522694&amp;post=12&amp;subd=satiazen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pada tanggal 23 – 30 Juni 2008 telah diadakan pertemuan antara 150 pemuda dari 38 negara di Bandung dan Garut.<span> </span>Dalam pertemuan yang bertema “The role of youth: action on Millenium Development Goals toward a peaceful world”, para pemuda tersebut berdiskusi, berbagi dan melakukan beberapa tindakan nyata seperti kerja bakti dan gotong royong dengan penduduk setempat.<span> </span>Semangat yang melatari pertemuan ini adalah pertukaran budaya yang tulus, keinginan untuk bersahabat terlepas dari latar belakang budaya, agama dan ras serta pengabdian kepada kemanusiaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Hal-hal universal ini masih mampu menyatukan manusia dari berbagai belahan dunia, seperti dibuktikan pada pertemuan tersebut.<span> </span>Dengan 3 hari sesi workshop dan diskusi <span> </span>yang dilakukan di Gedung Konperensi Asia Afrika, seakan semangat para <em>founding fathers </em>perumus Dasa Sila Bandung turut dirasakan selama kegiatan berlangsung.<span> </span>Sebagian besar pemuda yang hadir membawa kisah akan kegiatan kerelawanan mereka di negaranya masing-masing.<span> </span>Banyak cerita yang inspiratif dan menggugah, banyak peserta mengakui mengalami perubahan pola pikir, terbuka wawasannya dan terkikis <em>prejudice-nya</em> yang terbentuk selama ini karena kurangnya interaksi dan informasi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Terdapat statistik yang menggembirakan khususnya untuk Indonesia, yaitu kegiatan ini diprakarsai dan diselenggarakan oleh pemuda-pemudi Indonesia serta menghadirkan 30an peserta yang berasal dari berbagai propinsi di Indonesia.<span> </span>Ini menandai adanya semangat kemandirian, kepedulian serta keinginan untuk secara tulus menyebarkan semangat kerelawanan kepada pemuda-pemuda lainnya terutama di Indonesia.<span> </span>Namun pemuda-pemuda ini menemukan semangat tersebut melalui cara yang berbeda-beda.<span> </span>Mereka mengakui keinginan menjadi relawan bukan terjadi karena interaksi formal di sekolah,yaitu <span> </span>melalui proses pendidikan yang mereka lalui disana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pendidikan kerelawanan adalah salah satu elemen penting dari pembentukan karakter yang hilang dari pendidikan formal kita selama ini.<span> </span>Pergeseran fungsi sekolah telah terjadi tanpa kita melakukan sesuatu untuk menghindarinya.<span> </span>Sekolah seyogyanya didirikan untuk membantu masyarakat melalui pemerintah menanamkan nilai-nilai moral serta karakter yang baik sehingga pada akhirnya siswa yang dididik dapat menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan berguna.<span> </span>Namun fungsi ini direduksi sedemikian rupa sehingga sekolah seolah-olah telah menjadi lembaga bimbingan ujian.<span> </span>Bahkan tanpa malu-malu telah banyak sekolah yang menggandeng lembaga bimbingan untuk melakukan hal tersebut didalam sekolah mereka.<span> </span>Siswa dipacu untuk menjadi yang terbaik, dengan menggunakan jalan singkat, rumus cepat dan pengenalan pola soal bahkan sering kita dengar kecurangan berjamaah yang dilakukan pihak sekolah sendiri saat UAN berlangsung.<span> </span>Mereka dididik untuk jadi pemenang karena peluang untuk itu sangat sedikit dan kompetisi sangat ketat. Sehingga siswa terbiasa berpikir dalam kerangka <em>win-lose</em>.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Didalam kelas, banyak pelajaran yang dilakukan lepas dari realitas sosial yang ada dan seolah-olah terjadi di ruang vakum.<span> </span>Siswa tidak dibiasakan untuk berefleksi, menganalisa sebab dan akibat dari suatu perbuatan, serta berempati akan penderitaan orang lain.<span> </span>Kepedulian akan kemanusiaan serta keinginan untuk melakukan sesuatu untuk sesama hanya menjadi butir-butir hapalan tanpa melalui proses merasa dan mengalami.<span> </span>Metode “menyuap informasi” yang biasa dilakukan didalam kelas, menyebabkan benih-benih kemandirian dan berinisiatif sulit untuk tumbuh dengan subur.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Banyak yang dapat dilakukan untuk mengubah hal ini.<span> </span>Kegiatan kelas yang berinteraksi<span> </span>langsung dengan kejadian sehari-hari untuk menggugah empati siswa dan menumbuhkan keinginan mereka untuk melakukan sesuatu dapat dilakukan hampir di seluruh mata pelajaran.<span> </span>Contoh yang sederhana adalah dengan menggunakan bencana seperti banjir sebagai topik untuk dibedah di dalam dan diluar kelas.<span> </span>Bencana tersebut tidak hanya dianalisa sebab dan akibat melalui ilmu sains alam tetapi juga secara ilmu sosial.<span> </span>Siswa dapat meneliti sistem pembuangan limbah yang ada, membuat angket untuk penduduk setempat mengenai dampak banjir serta mewawancara pejabat instansi terkait.<span> </span>Pendekatan multi-disiplin membiasakan siswa untuk melihat masalah dari berbagai perspektif serta terbiasa dengan kerangka berpikir win-win.<span> </span>Pada akhirnya siswa dapat dibimbing untuk merumuskan tindakan-tindakan sederhana yang dapat mereka lakukan untuk mencegah bencana tersebut dan membuat kampanye kecil-kecilan untuk menyebarkan hasil penelitian di lingkungan mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sekolah juga dapat mengorganisasi kegiatan-kegiatan berorientasi kepada pemecahan masalah di lingkungan mereka sendiri.<span> </span>Melalui ekstra kurikuler<span> </span>seperti Palang Merah Remaja, Klub Pencinta Alam, Kelompok Ilmiah Remaja, relevansi ilmu yang didapat akan menjadi lebih riil sekiranya siswa diajak juga mengaplikasikan ilmu mereka secara langsung ke masyarakat dalam kegiatan ekstrakurikuler tersebut.<span> </span>Yang kerap terjadi adalah kegiatan ekstra kurikuler seolah berdiri sendiri diluar kegiatan kurikuler, dan merupakan ajang siswa untuk bebas lepas dari guru dan sekolah serta ajang siswa untuk unjuk gengsi dengan mengadakan pesta sekolah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Di luar sekolah, even seperti Youth Forum diatas, dapat dilakukan dengan lebih kerap dalam skala nasional maupun lokal.<span> </span>Hal ini dapat dilakukan untuk menggugah semangat kerelawanan dan bertukar ide mengenai kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan.<span> </span><span> </span>Dengan adanya teknologi tidak akan sukar menyebarkan informasi mengenai kegiatan-kegiatan kerelawanan untuk kaum muda.<span> </span>Terlebih lagi pemuda adalah pengguna teknologi yang paling banyak saat ini.<span> </span>Jika kita membuka internet, sudah sangat<span> </span>mudah ditemui website kerelawanan yang mengabdi di berbagai bidang yang dilakukan oleh pemuda.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pencapaian MDG’s sendiri merupakan hal yang akan mustahil dicapai pada tahun 2015 jika masyarakat (baca pemuda) tidak dilibatkan secara aktif.<span> </span>Pemuda dalam banyak kampanye MDG’s seperti HIV&amp; AIDS, pendidikan dasar untuk semua serta kesehatan ibu dan anak sering hanya menjadi target semata.<span> </span>Karena mayoritas dari <em>targeted subject</em> dalam pencapaian indikator tersebut memang pemuda.<span> </span>Namun untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi kampanye, ada baiknya pemuda juga dilibatkan aktif dalam melakukan sendiri kampanye tersebut pada <em>peer group</em> mereka.<span> </span>Hal inilah yang telah mulai dilaksanakan oleh beberapa peserta IYF dari negara-negara lain.<span> </span>Peserta dari Myanmar menceritakan kampanye HIV/AIDS gelap yang mereka lakukan dibawah tekanan junta militer, hal yang memerlukan tidak hanya kepedulian dan empati tetapi juga keberanian ekstra.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Masih ada harapan bahwa generasi si muda Indonesia sekarang tidak akan tumbuh menjadi generasi yang mementingkan diri mereka sendiri.<span> </span>Buktinya terlihat pada saat terjadi bencana silih berganti di negeri ini.<span> </span>Relawan pemuda adalah salah satu rombongan relawan pertama yang tiba di lokasi dan bergotong-royong dengan masyarakat mengatasi bencana tanpa embel-embel organisasi, afiliasi politik apalagi mencari ketenaran.<span> </span>Hanya rasa kemanusiaan yang mendorong mereka dan untunglah hal ini tak terkikis oleh proses pendidikan formal mereka.<span> </span>Kegiatan kerelawanan tidak harus berupa bantuan saat bencana, telah banyak kegiatan-kegiatan sederhana lain yang dilakukan oleh pemuda seperti membuat Taman Bacaan, Kampanye mencuci tangan sebelum makan, serta Kampanye menggosok gigi yang meskipun terlihat remeh namun sebenarnya berdampak sangat besar dan dapat dimulai dari lingkungan sendiri.<span> </span>Namun keberadaan pemuda relawan diatas jumlahnya masih sangat sedikit berbanding jumlah penduduk usia muda pada umumnya and luasnya wilayah yang harus dijangkau.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Institusi pendidikan memang mempunyai posisi strategis dalam melakukan pendidikan kerelawanan.<span> </span>Membentuk inisiatif, kepedulian dan kemandirian dalam diri pemuda kita harus dimulai dari perubahan cara belajar mereka sekarang serta mengembalikan fungsi sekolah itu sendiri .<span> </span><span> </span>Dengan mendidik siswa untuk mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi dan inisiatif untuk melakukan perubahan dalam lingkungan;<span> </span>niscaya akan terbentuk lapisan masyarakat yang berpendidikan, mandiri serta bertanggung jawab dalam menanggulangi permasalahan mereka sendiri.<span> </span>Hal ini akan mengurangi mentalitas ketergantungan yang sangat banyak kita temui dalam masyarakat kita saat ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Revised edition published in Media Indonesia, August 18, 2008.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/satiazen.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/satiazen.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/satiazen.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/satiazen.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/satiazen.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/satiazen.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/satiazen.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/satiazen.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/satiazen.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/satiazen.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/satiazen.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/satiazen.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/satiazen.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/satiazen.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/satiazen.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/satiazen.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=satiazen.wordpress.com&amp;blog=4522694&amp;post=12&amp;subd=satiazen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://satiazen.wordpress.com/2008/08/16/pendidikan-kerelawanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/222fc3e8701e8426469b93fc40808bd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">satiazen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mendorong Proses Bina Damai Melalui Pendidikan</title>
		<link>http://satiazen.wordpress.com/2008/08/16/mendorong-proses-bina-damai-melalui-pendidikan/</link>
		<comments>http://satiazen.wordpress.com/2008/08/16/mendorong-proses-bina-damai-melalui-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 04:41:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>satiazen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://satiazen.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Proses bina damai (peace building process) sedang berlangsung di Aceh seiring penandatanganan perjanjian damai di Helsinki dua tahun silam. Namun proses tersebut sejauh ini belum berjalan maksimal disebabkan oleh beberapa faktor seperti lamanya konflik yang menyebabkan berakarnya budaya kekerasan di &#8230; <a href="http://satiazen.wordpress.com/2008/08/16/mendorong-proses-bina-damai-melalui-pendidikan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=satiazen.wordpress.com&amp;blog=4522694&amp;post=7&amp;subd=satiazen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Proses bina damai (<em>peace building process</em>) sedang berlangsung di Aceh seiring penandatanganan perjanjian damai di Helsinki dua tahun silam. Namun proses tersebut sejauh ini belum berjalan maksimal disebabkan oleh beberapa faktor seperti lamanya konflik yang menyebabkan berakarnya budaya kekerasan di dalam masyarakat, masih lemahnya dukungan dari berbagai pihak terhadap pentingnya proses bina damai dan belum adanya strategi yang jelas mengenai proses bina damai.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Konflik yang telah berlangsung lama hampir tiga dekade telah melahirkan budaya kekerasan di dalam masyarakat. Masyarakat seperti banyak diberitakan di media massa cenderung masih memilih cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Hal ini disebabkan karena masyarakat masih sulit untuk keluar dan meninggalkan budaya yang telah berurat akar itu selama hampir tiga dekade.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span lang="DE">Budaya kekerasan juga telah mewabah dikalangan anak-anak. Bisa dilihat ketika Hari Raya Idul Fitri beberapa bulan yang lalu, anak-anak sangat menggemari senjata mainan dan atribut-atribut militer lainnya. Mereka bahkan bermain perang-perangan hingga mencederai satu sama lain seperti yang terjadi di masa konflik dulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span lang="DE">Pengalaman di sekolah kami juga sangat mengejutkan. </span><span lang="IT">Ketika ditanyakan kepada anak-anak apa cita-cita mereka di kemudian hari, rata-rata anak bercita-cita menjadi tentara, polisi atau polwan. </span><span lang="DE">Menurut mereka tentara dan polisi kelihatan lebih gagah dan berani. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span lang="DE">Dalam pertunjukan drama dan musikalisasi yang ditampilkan di sekolah, bagian dari pelajaran kesenian, hampir semua atraksi mengandung unsur kekerasan seperti perkelahian, baku tembak dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya. Begitu juga ketika memulai kelas, membangun kontrak belajar dan menentukan sanksi,<span> </span>anak-anak dengan cepat menyebut hukuman fisik seperti dicubit, dipukul atau dijemur sebagai sanksi terhadap mereka yang melanggar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span lang="DE">Tidak bisa dipungkiri, konflik berkepanjangan telah melahirkan budaya kekerasan di Aceh. Konflik telah menghadirkan sisi lain yang lebih menarik dalam kehidupan anak-anak. Aktor konflik telah menjadi panutan dan idola mereka. Atribut militer, seperti senjata dan kostum tentara menjadi kebanggaan dan simbol keberanian. Aksi kekerasan menjadi solusi pemecahan masalah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="DE">Lemahnya Dukungan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span lang="DE">Selain faktor budaya kekerasan yang telah akut, proses bina damai juga belum berjalan maksimal disebabkan oleh masih kurangnya dukungan dari berbagai pihak. Konsentrasi beberapa lembaga donor misalnya masih tertuju kepada proses rehab-rekon dampak tsunami, meskipun telah melewati batas ambang darurat. Dan tragisnya, dana dan energi yang yang dihabiskan untuk proses tersebut sampai hari ini tidak berbanding lurus dengan hasil yang dicapai. Akibatnya dana dan energi untuk proses bina damai pun menjadi kecil dan berkurang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span lang="DE">Proses bina damai seharusnya dilakukan beriringan dengan proses rehab-rekon. </span>Dua proses tersebut memiliki posisi yang sama penting untuk kasus Aceh. Bencana tsunami yang terjadi dalam beberapa menit memiliki dampak yang sama dengan bencana konflik yang telah berlangsung tiga dekade. Hanya saja, bencana tsunami lebih aktual dan memiliki nilai tawar lebih tinggi dibandingkan dengan konflik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Proses bina damai penting disandingkan dengan rehab-rekon karena kegagalan bina damai akan berdampak langsung terhadap hasil yang telah dicapai dalam rehab-rekon. Karena itu, seharusnya proses bina damai dapat dijadikan penyangga dalam mensukseskan proses rehab-rekon atau sebaliknya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>Intervensi melalui Pendidikan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Faktor lain yang tidak kalah penting dari belum maksimalnya proses bina damai adalah belum adanya perencanaan yang matang terhadap strategi bina damai secara jangka panjang. Sejauh ini proses bina damai tidak lebih dari aktifitas menyalurkan bantuan terhadap mantan kombatan dan korban konflik serta membuka ruang politik seperti pilkada langsung dan pendirian partai politik lokal. Hal ini menunjukkan bahwa seakan-akan bina damai identik dengan penyaluran bantuan dan upaya menyediakan saluran politik bagi pihak-pihak yang sebelumnya berkonflik. Padahal konsep bina damai tidak sesempit itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Proses bina damai selain membuka saluran politik bagi mantan aktor konflik, juga berusaha mengubah budaya kekerasan di dalam masyarakat menjadi budaya damai. Proyek ini tentu saja tidak bisa dilakukan dengan aktifitas politik dan program jangka pendek, melainkan harus dirumuskan dalam bentuk strategi jangka panjang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Dalam konteks ini intervensi melalui lembaga pendidikan seperti sekolah dan dayah (pesantren) lebih tepat dilakukan sebagai strategi jangka panjang dalam rangka mempersiapkan generasi baru yang cinta damai.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Sekolah dan dayah memiliki posisi strategis untuk mewujudkan budaya damai dalam masyarakat. Nilai-nilai positif seperti mencintai perdamaian, nir-kekerasan, saling menghargai orang lain, menerima perbedaan dan menjungjung tinggi hak asasi manusia akan lebih mudah ditanamkan dalam lingkungan sekolah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span lang="DE">Sekolah memiliki infrastrukur yang memadai untuk mendukung proses bina damai. Sekolah memiliki anak didik dengan latar belakang yang beragam. Selain itu sekolah juga memiliki sarana seperti tempat sebagai lingkungan yang dapat membentuk mental dan budaya anak didik. Yang lebih penting, sekolah memiliki tenaga pendidik sebagai fasilitator budaya damai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span lang="DE">Sejauh ini infrastruktur yang dimiliki sekolah belum dimanfaatkan untuk mendorong proses bina damai. Sejatinya, pihak-pihak yang peduli terhadap proses bina damai melakukan langkah awal dengan membantu peningkatan kapasitas sekolah atau dayah dalam konteks bina damai. Karena harus diakui, dari segi sumber daya, sekolah atau dayah masih memiliki kelemahan untuk mewujudkan proses bina damai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span lang="DE">Dalam beberapa kasus, sekolah malah mempraktekkan budaya kekerasan melalui sistem pemberian sanksi fisik yang menitikberatkan aspek kejeraan tanpa mengajak anak didik melakukan refleksi akan akibat dari tindakannya. Akibatnya, anak-anak menjadi terbiasa dengan kekerasan sekaligus menilai kekerasan sebagai hal yang biasa dalam kehidupan mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span lang="DE">Kasus kekerasan di sekolah sebenarnya menggambarkan lemahnya sumber daya sekolah dalam hal menciptakan lingkungan yang damai. Guru misalnya, sejauh ini belum terbiasa mengajarkan anak didik dengan metode partisipatif-aktif. Selain itu, guru juga belum terbiasa memberi hukuman yang positif dan mendidik bagi anak yang melanggar aturan sekolah, misalnya dengan membuat rangkuman buku atau menulis sebab dan akibat dari perbuatannya yang melanggar. Guru juga belum terbiasa mendorong anak didik untuk gemar membaca. Padahal sebuah daerah dengan minat membaca yang tinggi memiliki tingkat kekerasan yang rendah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span lang="DE">Karena itu, pembenahan pada tingkat sekolah dengan meningkatkan kapasitas pengambil kebijakan dan guru perlu dilakukan sebelum menjadikan sekolah sebagai lingkungan baru dalam rangka mensukseskan proses bina damai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span lang="DE">Bagaimanapun, konflik dan kekerasan yang terjadi pada masa lalu telah meninggalkan luka yang amat dalam bagi masyarakat Aceh. Namun harus diyakini bahwa luka tersebut dapat disebuhkan dalam jangka waktu yang direncanakan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span lang="DE">Tiga dekade bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah konflik dan kekerasan. Tiga generasi telah lahir di sana. Karena itu, untuk memutus mata rantai kekerasan sekaligus membangun budaya damai diperlukan dukungan yang cukup dan strategi yang tepat sehingga konflik tidak akan berulang kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal">Artikel diterbitkan di Media Indonesia, 2 Juni 2008</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/satiazen.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/satiazen.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/satiazen.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/satiazen.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/satiazen.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/satiazen.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/satiazen.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/satiazen.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/satiazen.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/satiazen.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/satiazen.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/satiazen.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/satiazen.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/satiazen.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/satiazen.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/satiazen.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=satiazen.wordpress.com&amp;blog=4522694&amp;post=7&amp;subd=satiazen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://satiazen.wordpress.com/2008/08/16/mendorong-proses-bina-damai-melalui-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/222fc3e8701e8426469b93fc40808bd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">satiazen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dinding sekolahnya bersih ya&#8230;.</title>
		<link>http://satiazen.wordpress.com/2008/08/16/dinding-sekolahnya-bersih-ya/</link>
		<comments>http://satiazen.wordpress.com/2008/08/16/dinding-sekolahnya-bersih-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 04:31:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>satiazen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://satiazen.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Komentar diatas diberikan oleh salah seorang pengunjung sekolah kami dari Hiroshima University. Dia telah mengunjungi sekolah-sekolah bantuan Jepang di Banda Aceh dan Aceh Besar tahun lalu saat bekerja pada lembaga bantuan Jepang di Aceh. Lanjutan dari komentar itu adalah: &#8220;Saya &#8230; <a href="http://satiazen.wordpress.com/2008/08/16/dinding-sekolahnya-bersih-ya/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=satiazen.wordpress.com&amp;blog=4522694&amp;post=5&amp;subd=satiazen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Komentar diatas diberikan oleh salah seorang pengunjung sekolah kami dari Hiroshima University.  Dia telah mengunjungi sekolah-sekolah bantuan Jepang di Banda Aceh dan Aceh Besar tahun lalu saat bekerja pada lembaga bantuan Jepang di Aceh.  Lanjutan dari komentar itu adalah: &#8220;Saya pikir jika dinding sekolah bisa dijaga untuk tidak dicoret dan dikotori maka disiplin di sekolah ini mestilah cukup baik.&#8221;</p>
<p>Sejujurnya ketika komentar tersebut dikeluarkan, saya jadi termenung sendiri.  Saya  tidak pernah memperhatikan hal-hal &#8220;kecil&#8221; seperti dinding bersih.  Setiap hari saya berkutat dengan keluhan, dari guru, staf sekolah, orang tua hingga siswa sendiri.  Rasanya sekeras apapun saya bekerja, masalah tidak pernah selesai, dan siswa kami seolah-olah tidak pernah berubah.   Apakah saya terlalu idealistis? terlalu muluk-muluk? atau terlalu &#8216;academic oriented&#8217;? sehingga pencapaian kecil namun penting seperti menjaga dinding bersih telah luput dari pengamatan saya selama ini.</p>
<p>Tiba-tiba pencapaian &#8216;kecil&#8217; lainnya terlihat oleh saya, sampah yang dibuang pada tempatnya, tumbuhan bunga yang tidak dipetik dan dirusak, baju seragam yang rapih, datang tepat waktu ke kelas, sapaan ceria siswa kepada guru dan sesama mereka serta senyum lebar maupun malu-malu yang ditebar di lorong sekolah.</p>
<p>Mungkin selama ini ada juga &#8220;ceramah&#8221; kami (baca: para guru) yang memang didengar oleh siswa.  Mungkin penekanan budaya sekolah untuk menyayangi gedung yang didapat dari sumbangan masyarakat dan menyayangi sesama warga sekolah akhirnya terpatri dalam siswa (dan kami juga), sehingga memang dinding disekolah menjadi relatif bersih dari corat-coret dan suasana sekolah menjadi demikian hidup.   Namun saya menyadari bahwa melihat contoh yang diberikan oleh para guru dan staf sekolah merupakan pengaruh terbesar dan juga merupakan bagian  dari pendidikan yang selama ini tidak kami sadari.</p>
<p>Apapun sebabnya, komentar ringan tersebut menyadarkan saya bahwa murid-murid kami telah berjalan jauh dari kondisi awal mereka.  Mereka yang dulunya mungkin tidak dapat bersekolah dengan rutin karena konflik, atau justru sekolah mereka tidak lagi dapat digunakan karena sudah dibakar atau mereka  yang bersekolah di tenda karena tsunami.  Tidak usah bicara disiplin, bisa bersekolah dan punya ruangan kelas sudah merupakan kemewahan tersendiri.  Mereka telah berjalan jauh&#8230;&#8230;sekarang apakah saya bersedia berjalan bersama mereka?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/satiazen.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/satiazen.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/satiazen.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/satiazen.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/satiazen.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/satiazen.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/satiazen.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/satiazen.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/satiazen.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/satiazen.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/satiazen.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/satiazen.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/satiazen.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/satiazen.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/satiazen.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/satiazen.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=satiazen.wordpress.com&amp;blog=4522694&amp;post=5&amp;subd=satiazen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://satiazen.wordpress.com/2008/08/16/dinding-sekolahnya-bersih-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/222fc3e8701e8426469b93fc40808bd0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">satiazen</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
